Bicara Seks dengan Ortu

by Remaja Helda on January 28th, 2011
9 CommentsComments

Zaman-zamannya dulu pas Helda masih punya Mama dan Papa, waaa.. Helda harus mengakui kalu Helda paling ngga’ enak ngebahas hal yang satuh inih. As example, kalu ada nonton TV dan pas berita mengenai pemerkosaan, Helda langsung ngerasa risih. Pas nonton drama Korea dan ada adegan kissing-nya, Helda pura-pura ngelakuin sesuatu atau kemana gitu, biar keliatan ngga liat.

:D

Kenapa?

Salah satu alasannya adalah: Helda ngga mau dikira’in yang macem-macem.  Dalam pikiran Helda kalu Helda nanya’in dan mulai untuk bicara mengenai seks adalah pasti ortu Helda mikir Helda udah ’berbuat’, ya, paling ngga berpikir ke arah sanalah.

diskusi dengan ortu

diskusi dengan ortu

Temen-temen pernah ngga’ ngalamin perasaan yang sama seperti Helda alamin? Kalu kamu berani memulai pembicaraan mengenai seks dengan ortu, yuk, share di kolom komentar – gimana cara kamu memulainya atau ortu kamu yang mulai duluan. Ntar Helda bakal update post ini. Nah, buat kamu yang punya perasaan yang sama dengan Helda, terusin baca yah. Kasih komentar juga teteup boleh dong.

;)

Tapi, sebelumnya, kita perlu tau kenapa kita harus memulai untuk bicara tentang seks dengan ortu kita.

  1. Walau kita sudah tau seks itu apa, gimana, dan sebagainya. Bicara dengan ortu mengenai seks adalah perlindungan dan tanda kalu kita bisa dibilang dekat dengan ortu.
  2. Kita bisa saja tau lewat guru, buku pelajaran dan temen-temen atau mungkin Blog Remaja Helda.info inih. Tapiii, pemahaman guru, temen-temen dan buku dan sebagainya bisa saja berbeda – terutama mengenai batasan dan prinsip moral mengenai seks. Ada yang menganggap yang namanya seks adalah hubungan suami-istri, sementara seks oral, anal, cyber-sex atau telepon seks lazim saja. Apa orang tuamu berpikir seperti itu? Nah dengan terbukanya komunikasi antara orang tua dan kita mengenai seks, kita jadi punya patokan yang jelas kan?

Sekarang masalahnya adalah gimana memulai pembicaraan mengenai seks dengan orang tua. Dari sebuah buku, Helda dapetin saran sebagai berikut:

Ringkasannya intinya begini: mulai saja pembicaraan tersebut, ngga perlu takut-takutlah dikira begini-begitu. Yang penting emang beneran kan kalu kita ngga ‘ngapa-ngapain’. Then, kasih tau alasannya kenapa kita memulai percakapan mengenai seks tersebut. Yang terakhir adalah, jangan hanya sampai terputus pada waktu ituh ajah kita bicara mengenai hal tersebut dengan ortu. Kita bisa bilang: “Kalu suatu saat aku ada pertanyaan lagi, boleh kan, Pa/Ma, aku tanya lagi?”

:)

Buat Para Remaja:

Perlu kita tau bahwa ortu sebenernya ingin banget memberikan pendidikan seks dan bicara mengenai seks dengan anaknya. Tapi, ternyata mereka juga punya perasaan malu, canggung dan tidak tau untuk memulainya. (Sama yah kaya’ kita. Xixixi.)

Buat Para Orang Tua:

Walaupun lebih nyaman dan ngga canggung bagi remaja untuk bertukar-pikiran dan berbicara mengenai seks dengan guru dan teman-temannya, dalam hati mereka yang paling dalam *ceileh, bahasanya*, remaja lebih senang kalu mereka bisa tau dari ortu mereka. Tapi, karena perasaan canggung dan takut dikira ‘yang ngga-ngga’, mereka memilih diam saja. Jadi, buat ortu dimana pun berada, plis, ngga perlu menghujani remaja dengan nasehat panjang-lebar atau hanya sekadar mengatakan yang buruk-buruknya saja mengenai seks.

Yang Nyangkut dari Mesin Pencari:

cerita pelajaran seex dari orang tua, anak selingkuh dengan orang tua, diskusi masalah anak remaja, diskusi seks, anak dan orang tua selingkuh, Seks dan kissing, seks, seks orang tua, Selingkuh Orang tua dan anak, komunikasi memulai berbicara

Postingan Terkait:

  1. Ortu Bertengkar Mulu!
    Orang tua berantem alias bertengkar? Yup! Remaja mana sih yang...
  2. Sudah Tau Seks, Tapi Kok Bisa Hamil?
    Sampai sekarang Helda masih bingung dan ngga habis pikir kenapa...
  3. Tips Melawan “Pikiran Seks”
    Kemarin kita cerita “bagaimana menanggapi pikiran seks”, hari ini kita...
  4. Kenalan Sama Ortu, Yuk!
    Kenalan sama orang tua sendiri, Hel? Yang pasti sayah yah...
  5. Seks Bentuk Lain!
    Ngomongin soal seks memang tak akan ada habisnya! Gimana nggak,...

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Categories: Sex 'n Drugs

Comments

Feed
Trackback URL
  • Hehe mungkin untuk mengurangi rasa canggung sebaiknya anak perempuan berdiskusi dengan ibunya, sementara anak laki-laki berdiskusi dengan bapaknya hehe mungkin lebih bisa terbuka kali ya..

  • Salam kenal sebelumnya…

    wah, nice info..

    Btw, fotonya adalah salah satu gambar potongan film korea yang saya tonton…
    hihihi… :)

  • Salam kenal.. hehe iya nih, saya juga bingung mungkin nanti gimana caranya biar bisa buka-bukaan sama anak :D

  • Budaya masyarakat kita yang masih menganggap tabu untuk membicarakan masalah sex, memang menjadi penghalang anak sekarang untuk mendapat pendidikan sex dari sumber yg benar. Akibatnya, remaja sekarang lebih banyak mendapat pendidikan sex dari sumber yg gak jelas. Akhirnya banyak yg terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

  • Emang bener kok, kadang saya juga risih banget ngelihat adegan kissing di depan ortu..

    kadang apa yang dipikirin ortu ngga sama dengan pikiran anak..bahkan soal seks..


  • zul

    sebenarnya pelajaran yg bagus jika masalah seks juga dibicarakan dengan ortu tp terkadang memang sulit diterapkan…malu…pamali kata org sunda

  • anak2 sy sudah remaja, jadi saya lebih sering duluan ngak bicara soal sex (lebih tepatnya perkembangan seksualnya), sebelum anak saya ngajak bicara soal itu. maksud sebenarnya hanya untuk mengamati perkembangan sekaligus agar mereka nggak salah arah.
    hasil lain adalah: anak2 sy nggak canggung untuk berkonsultasi ke ortu.

  • Salah satu alasannya adalah: Helda ngga mau dikira’in yang macem-macem. Dalam pikiran Helda kalu Helda nanya’in dan mulai untuk bicara mengenai seks adalah pasti ortu Helda mikir Helda udah ’berbuat’, ya, paling ngga berpikir ke arah sanalah.

    kenapa????

  • Zaman-zamannya dulu pas Helda masih punya Mama dan Papa, waaa

    maksudnya??

Leave Comment

Commenting Options

Alternatively, you can create an avatar that will appear whenever you leave a comment on a Gravatar-enabled blog.

Switch to our mobile site