Bunuh Diri: Pembunuh Senyap Para Remaja
Di artikel blog remaja beberapa hari yang lalu, Helda sempat menyinggung tentang sketsa wajah pelaku bom bunuh diri di Marriot. Nah, ternyata dugaannya ialah salah satu pelaku masih remaja!
Wedew… Senekad itu yah. Yang jadi pertanyaannya adalah apa penyebab atau faktor remaja tersebut mau melakukan tindakan bom bunuh diri? Tidak saja remaja pelaku bom Marriot itu, tetapi juga remaja-remaja lainnya.
![]()
Pertama, kita harus tau dulu apa saja faktor penyebab tindakan bunuh diri oleh anak remaja, ntah itu karena masalah remaja dan tindakan kenakalan remaja. Dari buku Suicide karya Stephen Flanders, yang Helda kutip dari blog lama Helda, berikut beberapa faktor resiko bunuh diri:
- Depresi kronis
- Putus asa
- Alkohol dan penyalahgunaan narkotika
- Pengaruh keluarga
- Kehilangan orang yang dikasihi (bahkan binatang peliharaan)
Sampe-sampe kehilangan bintang peliharaan bisa menjadi penyebab bunuh diri para anak remaja yah. Wologhhh… Itu masih sebagian dan masih faktornya saja, nah berikut ini kelanjutannya, tanda-tanda yang perlu diperhatikan:
- Pernah berpikir untuk bunuh diri: Jika seorang remaja pernah merancang suatu cara untuk bunuh diri atau paling tidak terbersit saja untuk mengakhiri hidup, sebaiknya perlu hati-hati!
- Bicara soal bunuh diri: Jika seorang remaja pernah menyatakan perasaannya untuk mengakhiri hidup ataupun ketidakbergunaan dirinya, jangan pernah sepelekan hal tersebut! Tindakan ini juga adalah semacam jeritannya untuk meminta tolong.
- Perubahan kepribadian dan perilaku: Seperti poin kedua, perubahan kepribadiannya diikuti dengan pernyataan-pernyataan ketidakbergunaan dirinya, hal ini dapat mengarah kepada tindakan bunuh diri.
- Pengaturan akhir: Contohnya menjual/menyumbangkan semua barang berharga miliknya.
Kemudian, perlu kita tahu juga persentase bunuh diri berikut ini harian online Indonesia punya - Sinar Harapan:
10 persen orang bunuh diri dengan alasan tidak jelas, 25 persen orang yang melakukan tindakan bunuh diri karena menderita ketidakstabilan mental dan 40 persen karena mengikuti kata hati ketika mengalami gangguan emosi.
Bunuh diri juga adalah salah satu cara membalasnya, agar orang yang telah menyakitinya merasa bersalah
Serem ya… Ngga tau deh mau cuap-cuap apa lagi. Secara Helda ngga pernah memikirkan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Xixixixi. Swear! Tapi, bukan berarti Helda ngga punya peluang. (Ngga berharaplah)
![]()
Yang pasti, bunuh diri mengincar siapapun, sampai-sampai judul postingan blog remaja ini bilang: bunuh diri itu ‘pembunuh senyap‘. Setuju kaga’?
Tanpa kita sadari, eh, ada seseorang di sekeliling kita yang nekad membunuh dirinya sendiri. Apalagi, kalo itu orang terdekatmu! Terkejut dan kecewa. Kita bertanya dalam hati: kok bisa?! Ada rasa bersalah yang mendalam, bahkan kita sendiri bisa ikut-ikutan.
![]()
So, buat kita semua, coba deh lebih perhatian ke sekeliling terutama orang-orang terdekat kita. Kalo dia menunjukkan tanda-tanda yang Helda sebutin di atas, coba motivasi dia bukan menghakimi dan tetep jaga kontak dengannya.
Contohnya: Adikmu atau katakanlah adik Helda pernah bilang kalo dia serasa ngga pengen hidup lagi. Bahkan dia nunjukin sayatan yang dia buat sendiri. Ugh… Ngeri banget! Tapi, apa respon Helda semestinya?
![]()
Bukan menghakiminya atau langsung bilang itu dosa! Yang dia butuhkan bukan ocehan dan omelan atau khotbah ini-itu. Masih syukur dia mau cerita ya kan? Dan memang sih, beberapa orang yang ‘nekad bunuh diri’, biasanya mereka cerita dulu… Kenapa? Karena pada dasarnya manusia ingin hidup, tapiii… Kalo ngga ada yang mendukung mereka? Udah gitu, kalo kita perhatikan ke poin kedua di bagian tanda-tanda bunuh diri:
- Bicara soal bunuh diri: …Tindakan ini juga adalah semacam jeritannya untuk meminta tolong.
Nah, mereka sebenarnya sedang meminta dukungan kita, bukan? Oleh karena itu, peran keluarga dan orang-orang terdekatnyalah paling utama!
![]()
Postingan Terkait:
- Saudaraku Bunuh Diri!
Pada postingan blog remaja kemarin, kita telah tau beberapa penyebab seorang remaja melakukan tindakan bunuh diri, begitu juga tindakan preventif... - Pelaku Terorisme Mulai Lirik Remaja!
Beugh.. Serem gitu ya judul post Blog Remaja hari ini. Kalo kamu udah nonton tivi atau baca berita di koran,... - Pengendalian Diri oleh Remaja
Ketua DPRD Sumut Tewas dalam Demo Anarkis, Diduga Karena Dikeroyok oleh Pendemo. Itu-itu saja yang saya dengar, baca, dan tonton... - Kenakalan Remaja
Setelah kita kemarin cerita soal pelecehan seksual terhadap remaja, ngga ada salahnya kalo kita memundurkan pembicaraan - kenakalan remaja. Yang... - Krisis Kepercayaan Diri
Gila banget, lewat sebulan udah Helda kaga update blog remaja kesayangan ini. Sedih, Bo’! Ngga bisa ol dan ngga bisa... - Remaja Punya Masalah, No Problem!
Adakah di antara kita yang sedang punya masalah? Kalau ada, berarti kita remaja normal. Hehe. Meskipun begitu, ada kalanya masalah... - Pengaruh Musik Terhadap Kecerdasan Emosional Remaja
Kaga’ bisa hidup tanpa musik? Sah-sah saja sih. Ya, walaupun sebenarnya saya kurang setuju dengan pernyataan tersebut - “Tak Bisa...
Tags: anak bunuh diri, binatang peliharaan, bom bunuh diri, bunuh diri, bunuh diri indonesia, depresi, helda, kasus bunuh diri, Kenakalan Remaja, kepribadian, kronis, marriot, masalah remaja, narkotika, ntah, persen, poin, putus asa, remaja bunuh diri, sampe, satu pelaku, sinar, sketsa wajah, suicide, tolong, yah




benar juga tuh, orang yang bunuh diri itu kebanyakan stress trus gak ada yang mendukung dia, akibatnya pikiran kosong terus ngambil jalan pintas tuk nyelesaiin masalahnya dengan bunuh diri.
kalau harakiri versi jepang gimana tuh. point yang keberapa yah ???
Harakiri menurut Helda termasuk putus asa, kayak Mishima.

[...] Nggaklah, pacar bukan sesuatu yang harus diburu, dicari atau wajib didapetin, apalagi sampe bunuh diri - semuanya harus berdasarkan hati nurani, apa kamu udah siap punya [...]
assalamu’alaikum. salam kenal. saya mahasiswa pasca Universitas Indonesia fak Psikologi yang sedang melakukan penelitian mengenai usaha bunuh diri terutama rentang usia 13-35 thn. kalau ada yang punya pengalaman mengenai hal tersebut atau punya kenalan, saudara yang punya pengalaman yang sama. barangkali mau sharing dengan saya, saya tunggu sekali. mudah-mudahan, penelitian ini bisa membantu teman, saudara, anak-anak kita yang mengalami masalah yang sama. trimakasih