Pengendalian Diri oleh Remaja

by Remaja Helda on February 4th, 2009
27 CommentsComments

Ketua DPRD Sumut Tewas dalam Demo Anarkis, Diduga Karena Dikeroyok oleh Pendemo.

Itu-itu saja yang saya dengar, baca, dan tonton dari kemarin, Selasa (03/02/2009). Ada yang menduga bahwa Beliau meninggal karena dikeroyok, sementara pihak rumah sakit yakni Rumah Sakit Gleni Hospital Medan menyatakan tidak ada indikasi kekerasan fisik yang menyebabkan kematian. Malah, mereka menyatakan bahwa korban meninggal akibat serangan jantung. Oya, aparat keamanan juga disalahkan dalam peristiwa ini.

Entahlah, mana yang benar dan tidak. Yang pasti, satu hal yang saya dapat adalah sebegitu cepatnyakan seseorang bisa bertindak dengan tenaga dalam dada dan kepala panas? Bukan disalahkan dia menyuarakan aspirasinya (baca: unjuk rasa), namun apakah dia sanggup untuk tetap menghormati Hak Asasi Manusia yang dimiliki oleh orang lain demikian dengan dirinya yang juga dihormati HAM-nya untuk berpendapat.

Lalu, apa hubungannya dengan remaja, Helda?

Aksi tawuran antarsekolah, mahasiswa, dan bahkan antarindividu mewarnai indahnya dunia remaja. Kaga‘ indah lagi ya, Bo‘! Ntah masalah apa, reaksi yang keluar dari tenaga dalam adalah emosi yang tidak terkendali – dimulai dari cacian, kata-kata kotor, dan segala jenis hewan sampai jurus ini itu terekspos. Hufh.

Coba perhatikan seberapa cepat orang-orang di lingkungan Anda latah mengucapkan kata-kata kotor ketika dia terkejut akan sesuatu? Mungkin karena ada yang tidak sengaja menyenggolnya, dan sebagainya…

Bahkan terkadang minta maaf tidak cukup bagi mereka!

Di sekolah - karena ada yang bereng-bereng melihat ke dia dengan mata agak sinis, seseorang menjadi terpancing untuk berkelahi.

Oke, itu semua masih dalam tingkatan kecil. Lagipula, bagaimana bila kita diperlakukan secara tidak adil? Contoh para pendemo di atas yang menganggap tidak adil jika tidak dilakukan pembentukan Provinsi Tapanuli. Walaupun begitu, menurut saya adalah akan lebih baik jika kita mampu mengendalikan diri! Semua tidak harus diselesaikan dengan kekerasan. Bukankah kalau begitu kita juga telah berlaku tidak adil dengan melanggar hak yang paling hakiki yang dimiliki oleh lawan sesama kita tersebut?

Begitu juga dengan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa bertanya pada diri masing-masing, “Apakah saya begitu mudah terpancing untuk marah? Sedikit-sedikit, kata-kata kotor selalu terucap bahkan pukulan pun melayang jika ada yang melakukan kesalahan terhadap saya.”

Mungkin dengan ‘pengendalian diri’ ini, seseorang terlihat engge’-engge‘ saja dan terkesan cari aman. Yup! Memang cari aman, bukankah itu yang kita mau? Oya, saya juga pernah dengar dan baca kalimat seperti ini:

“Dengan tidak membalas, kita sebenarnya seperti menaruh bara api di atas kepala lawan kita.”

Akh! Sepertinya saya juga sudah tak karuan nih. Hehehe. Tapi, sekali lagi, semoga remaja Indonesia dapat menjadi remaja-remaja yang cerdas secara emosional dan mampu mengendalikan diri. Masalah tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan.

Silahkan baca juga yang berikut ini, cakupan pengendalian diri yang lainnya:

Lumrahkah Seks Pranikah

Disiplin Orang Tua, Tegakkan!

Nah, di artikel Disiplin Orang Tua di atas, membahas bagaimana kata-kata yang terucap dan disiplin yang dilakukan berhubungan dan ini tentunya membentuk kepribadian si anak.
:wink:

Yang Nyangkut dari Mesin Pencari:

pengendalian tawuran, pengendalian kenakalan remaja, gambar demo secara anarkis, kecerdasan emosi dan pengendalian diri, demo anarkis, para psikolog tentang tawuran antar sekolah, contoh demo anarkis, pengendalian emosi remaja, pengendalian diri terhadap remaja, pengendalian diri dan pengaruh terhadap remaja

Postingan Terkait:

  1. Bunuh Diri: Pembunuh Senyap Para Remaja
    Di artikel blog remaja beberapa hari yang lalu, Helda sempat...
  2. Bagaimana Remaja Menanggapi Pikiran Seks?
    Beugh… Ngobrolin tentang seks emang kaga’ pernah ada habisnya! Khususnya...
  3. Pengaruh Musik Terhadap Kecerdasan Emosional Remaja
    Kaga’ bisa hidup tanpa musik? Sah-sah saja sih. Ya, walaupun...
  4. Macet!
    Gile, kemaren panas banget, Bo’! Bagaimana di tempat Anda? Boleh...
  5. Mengapa Remaja Enggan Cerita Pada Orang Tua?
    Kalau kita punya kesalahan dan orang tua kita tidak tahu-menahu,...

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Categories: Psikologi Remaja

Comments

Feed
Trackback URL

Leave Comment

Commenting Options

Alternatively, you can create an avatar that will appear whenever you leave a comment on a Gravatar-enabled blog.

Switch to our mobile site