Pengendalian Diri oleh Remaja

Ketua DPRD Sumut Tewas dalam Demo Anarkis, Diduga Karena Dikeroyok oleh Pendemo.

Itu-itu saja yang saya dengar, baca, dan tonton dari kemarin, Selasa (03/02/2009). Ada yang menduga bahwa Beliau meninggal karena dikeroyok, sementara pihak rumah sakit yakni Rumah Sakit Gleni Hospital Medan menyatakan tidak ada indikasi kekerasan fisik yang menyebabkan kematian. Malah, mereka menyatakan bahwa korban meninggal akibat serangan jantung. Oya, aparat keamanan juga disalahkan dalam peristiwa ini.

Entahlah, mana yang benar dan tidak. Yang pasti, satu hal yang saya dapat adalah sebegitu cepatnyakan seseorang bisa bertindak dengan tenaga dalam dada dan kepala panas? Bukan disalahkan dia menyuarakan aspirasinya (baca: unjuk rasa), namun apakah dia sanggup untuk tetap menghormati Hak Asasi Manusia yang dimiliki oleh orang lain demikian dengan dirinya yang juga dihormati HAM-nya untuk berpendapat.

Lalu, apa hubungannya dengan remaja, Helda?

Aksi tawuran antarsekolah, mahasiswa, dan bahkan antarindividu mewarnai indahnya dunia remaja. Kaga‘ indah lagi ya, Bo‘! Ntah masalah apa, reaksi yang keluar dari tenaga dalam adalah emosi yang tidak terkendali – dimulai dari cacian, kata-kata kotor, dan segala jenis hewan sampai jurus ini itu terekspos. Hufh.

Coba perhatikan seberapa cepat orang-orang di lingkungan Anda latah mengucapkan kata-kata kotor ketika dia terkejut akan sesuatu? Mungkin karena ada yang tidak sengaja menyenggolnya, dan sebagainya…

Bahkan terkadang minta maaf tidak cukup bagi mereka!

Di sekolah - karena ada yang bereng-bereng melihat ke dia dengan mata agak sinis, seseorang menjadi terpancing untuk berkelahi.

Oke, itu semua masih dalam tingkatan kecil. Lagipula, bagaimana bila kita diperlakukan secara tidak adil? Contoh para pendemo di atas yang menganggap tidak adil jika tidak dilakukan pembentukan Provinsi Tapanuli. Walaupun begitu, menurut saya adalah akan lebih baik jika kita mampu mengendalikan diri! Semua tidak harus diselesaikan dengan kekerasan. Bukankah kalau begitu kita juga telah berlaku tidak adil dengan melanggar hak yang paling hakiki yang dimiliki oleh lawan sesama kita tersebut?

Begitu juga dengan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa bertanya pada diri masing-masing, “Apakah saya begitu mudah terpancing untuk marah? Sedikit-sedikit, kata-kata kotor selalu terucap bahkan pukulan pun melayang jika ada yang melakukan kesalahan terhadap saya.”

Mungkin dengan ‘pengendalian diri’ ini, seseorang terlihat engge’-engge‘ saja dan terkesan cari aman. Yup! Memang cari aman, bukankah itu yang kita mau? Oya, saya juga pernah dengar dan baca kalimat seperti ini:

“Dengan tidak membalas, kita sebenarnya seperti menaruh bara api di atas kepala lawan kita.”

Akh! Sepertinya saya juga sudah tak karuan nih. Hehehe. Tapi, sekali lagi, semoga remaja Indonesia dapat menjadi remaja-remaja yang cerdas secara emosional dan mampu mengendalikan diri. Masalah tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan.

Silahkan baca juga yang berikut ini, cakupan pengendalian diri yang lainnya:

Lumrahkah Seks Pranikah

Disiplin Orang Tua, Tegakkan!

Nah, di artikel Disiplin Orang Tua di atas, membahas bagaimana kata-kata yang terucap dan disiplin yang dilakukan berhubungan dan ini tentunya membentuk kepribadian si anak.
:wink:

Yang Nyangkut:

contoh demo anarkis, gambar pengendalian emosi tawuran

Postingan Terkait:

  1. Tidur Bagi Remaja – Dewasa Muda
    Apakah Anda cukup tidur atau apakah tidur Anda berkualitas? Mungkin...
  2. Disiplin Orang Tua, Tegakkan!
    Sudahkah para orang tua menyadari bahwa mereka selalu menepati kata-kata...


Mau dapetin tips, download dan cerita remaja terbaru dari Blog Remaja secara gratis? Masukin email, klik OK, trus cek email-mu utk aktivasi:


Tags: anakanarkisdisiplindprdemosiheldahewanjuruskagakeamanankecerdasan emosikekerasan fisikkematiankorbanlatahlingkunganmaafmahasiswantahorang tuapengendalian diriremajaRemaja Indonesiarumah sakitserangan jantungtapanulitawurantenaga dalam

tempat ngumpul blogger indonesia

27 Comments

Leave a Reply