Kapan Saatnya Mengadu?
Postingan kali ini masih ada hubungannya dengan postingan sebelumnya di blog ini. Tukang ngadu ya, Bo’! Banyak yang bilang sebaiknya ngomong dulu sama si kawan kita itu. Yupz! Saya pun setuju. Hehehehe. Tanpa disetujui si Helda pun, emang gitu harusnya.
Jadi saat yang tepat untuk ‘mengadu’ adalah… Anda tahu sendiri jawabannya. Namun, kali ini saya ingin bercerita soal ngadu-ngaduan yang lain. Yang kurang tepat pelaksanaannya.
Apa itu?
Kita hidup di dunia yang tidak memedulikan satu sama lain. Istilah yang saya dengar adalah: “Sapa loe, sapa gue! Asal tidak merugikan saya, ya terserah dia…”
Nah lho? Apa hubungannya dengan “mengadu” ini?
Baru-baru ini saya mengalami kejadian seperti ini. Teman satu lokasi kerja saya (dia jaga wartel, sedangkan saya operator warnet), saya baru saja tahu bahwa dia sering memanipulasi penghasilan wartel. Kebetulan di wartel itu ada pangkas gitu. Jadi, setiap hari dia harus mengganti kertas yang telah dia gunakan untuk menyatat jumlah pangkas. Belum ngerti? Lanjut…
Intinya, dia tetep bayar si tukang pangkas dengan penghasilannya yang sebenarnya, sementara pada majikan saya yang dia kelabui. Kertas yang pertama berisi jumlah pangkas yang sebenarnya yang dia tunjukkan pada si tukang pangkas, lalu kertas kedua (hasil rekayasa dari dia) ditunjukkan pada si majikan.
Di sinilah letak ketidakpedulian saya tadi.
“Urusan dialah itu. Ntar saya dianggap tukang ngadu pula. Lagian dia kan ngga merugikan saya!”
And you know what?! Terjadi kehilangan uang di wartel itu. Bagaimanapun di antara kami semua yang mencuri itu. Tidak ada yang lain. Yang dituduhkan adalah adik saya yang cowok. Kejadian ini benar-benar membuat saya kesal! Saya yakin dia yang melakukannya. Sangat yakin! Kemudian, satu-satunya yang terpikir oleh saya adalah mengenai dirinya yang selama ini selalu menipu itu.
Tapi, mau bagaimana lagi? Jika saya melaporkan setelah ada masalah seperti ini. Bukankah saya dianggap ’sengaja’ ingin menjatuhkan seseorang? Mencari-cari kesalahan orang lain demi kepentingan diri sendiri semata? Atau saya mungkin bakal dicurigai kerja sama dengan dia? Untuk mengadu di saat seperti ini pastilah tidak tepat, bukan?
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah jika kita tahu ada perbuatan salah yang dilakukan oleh orang lain walau tidak merugikan kita, pedulilah terhadap masalah tersebut!
Jangan masa bodoh! Saat kita telah dirugikan olehnya, baru kita bertindak. Jangan seperti itu!
‘Mengadu’ ini juga bukan karena kita takut suatu saat kita dirugikan olehnya saja suatu saat. Akan tetapi, lebih ke hati nurani. Anggaplah jika kita yang dibohongi itu, bagaimana perasaan kita? Sakit bukan?
Postingan Terkait:
- Kapan Aku Bisa Pacaran?
Nah, buat yang sudah memasuki masa remaja, pasti pertanyaan di... - Senang Melihat Orang Susah, Susah Melihat Orang Senang
Senang Melihat Orang Susah, Susah Melihat Orang Senang. Kalimat di... - Kejujuran dalam Berpacaran
Bagaimana reaksi Anda ketika baru saja putus, mantan pacar Anda... - Apakah Aku (Remaja) Tukang Ngadu?
“Aku telah bersahabat dengannya selama bertahun-tahun. Dia banyak membantuku selama...
Tags: adik, antara, apa itu, bayar, blog remaja, bohong, cowok, diri sendiri, helda, jaga, jika, kawan, kerja sama, kesal, kesalahan, manipulasi, masalah, masih ada, mau, namun, peduli, perasaan, pun, rekayasa, remaja, saat, saja, sangat, satu, selama, tahu, tapi, teman, tukang ngadu, yakin,



ada bedanya dengan “adu domba” gak ?
——–
Bisa juga tuh, kalo’ disalahgunakan.
Helda: Ada ngga’ ya?
ya mengutamakan hal yang benar lah yang lebih penting
penginya mengadu kewarasan
sapa yang waras harus ngalah
pasti seru
trus adikmu gimana???
Antisipasi yg tepat walau terkadang sulit juga sich praktekinya
kadang malah masalah dah datang masih aku anggap santay dan biasa aja
ckckckck …
Salam Helda >>>
jadi takut dateng kesini
abis marah – marah mulu moodnya 
——–
Dah senyum yaaa…
Helda:
biasanya orang suka menceritakan keburukan orang lain, tapi kadang kala juga susah untuk menceritakan keburukan tersebut.
tapi dengan membiarkan keburukan itu bukan berarti kita care kepada temen kita itu tapi bisa jadi malah sebaliknya.
mungkin kuncinya adalah bagaiman cara yang bijaksana untuk mengatakan keburukan itu dengan tujuan orang tersebut dapat memperbaiki kesalahannya.
Makanya, jangan cuek-bebek mulu kalo ada sesuatu yang nggak beres. Langsung bertindak sebelum menyesal…
Hm…jadi bingung aku orangnya gitu dah masa bodoh tapi kalau udah kenyataan gini yah harus dilaporin aja Helda ! hayo coba bayangin kalau uang yang hilang itu jumlahnya puluhan juta, trus sampai meja hijau segala, tetap aja kan si orang itu harus dikuak juga
si tukang manipulasi itu temen deket mba bukan?
kalo bukan mah, aduin aja tuh dari awal2, biar tau rasa.
kalo kejadiannya dah kek sekarang,
jadi dilema ya mba :rol:
——–
Helda: Dia sepupu saya, Mbak..
Sekarang aja deh hel…
Eh bg mamat jadi kesitu??? Cieh… Hape baru nih ye… 
Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
Peristiwa yg bener2 menjengkelkan. Kita bermaksud menutupi aib orang tapi malah jadi bumerang buat saudara kita.
duh.. kasian bener.. kadang emang serba salah di situasi kayak begitu, tapi kalo sudah “membahayakan” kita sih ya sebaiknya ngadu aja.. btw tukang pangkas itu apa ya?
——–
Moso tukang pangkas tanya sama saya, Om?
Helda:
kadan9kala jika ituh bukan urusanQ aku nda mu ikut campur..
tapi jika ituh betentan9an den9an nurani terpaksa ikut campur dlm artian hanya men9in9atkan sajah,,
bahwa perbuatannya salah..
selebihnya terserah si pribadinya..
ada baiknya salig ngingetin, apalagi kalo lingkup kerjanya berdekatan. jangan sampe hape barumu yg jadi korban
…..adu mengadu menjadi satu itulah indonesia…indonesia tanah airku, aku berjanji padamu…menjunjung tanah airku tanah airku indonesia!
jreng…….
awas di baca si tokke blog ini…jadi ketahuan lah nantik..ini sptnya memberitahukan secara tidak langsung