Dia, Aku dan Mati
Akhirnya, aku hanya bisa melihat gadis berusia 15 tahun itu terus mendekam di kamarku yang gelap dan bau. Tak punya kuasa untuk beranjak, namun mulutnya terus berkomat-kamit. Terhembus kata-kata seperti tikaman jarum jahit ke sela-sela kulitku.
Aku tidak ikut mati dibuatnya! Hanya tetap saja akhirnya aku merasa mati. Kau tahu bagaimana keadaan seperti itu? Kau tidak mati tapi kau mati!
Tiap pagi aku harus mengantarkan sarapan padanya. Memberi dia minum. Tidak lupa mencucikan pakaiannya. Kadang, jika aku tidak sempat melakukan itu semua, yang ada hanyalah bau busuk dan tikaman-tikaman yang diciptakan oleh bibir tipisnya itu.
Ya, bibir tipisnya! Kurasa dia menyadari bahwa saat ini adalah saat masa kejayaan dari bibir tipisnya harus sirna. Dia bukan lagi terang dan juga bukan gelap. Dua masa yang telah dilewatinya. Lalu, sekarang dia apa? Aku pun tak bisa memberi definisi akan dirinya. Bukan tak bisa saja, aku tidak layak!
Orang mungkin melihatku sebagai terang dari dulu hingga sekarang. Namun kau pasti tidak akan pernah tahu, ya bahkan ketika aku mengatakan aku gelap, kau hanya menggeleng-geleng kepalamu. Kau hanya akan menganggap gelap itu adalah dia.
“Dia tidak gelap!” Teriakku pada semuanya. Bukan! Aku tidak sedang berteriak, aku hanya mengucapkan dengan nada rendah namun memiliki tanda seru. Sekarang apakah kau percaya akulah si gelap itu?
“Bersabar…” Itu mungkin yang keluar dari mulutmu.
Sekali lagi, aku diyakini sebagai terang, terang yang mulai redup namun masih dilindungi, agar aku tidak benar-benar mati. Sementara dia! Dia tidak ada yang menguatkan. Tidak, tidak. Ada banyak yang menguatkan dia. Namun, pada waktu dia terang.
Ketika dia mulai gelap karena sesuatu. Wajah-wajah yang ada hanyalah yang mengernyitkan kening kemudian mulut-mulut mereka mulai berkoak-koak, bibir hanya bisa mencibir. Ingin sekali kutinju wajah-wajah malaikat itu! Mereka sama sekali tidak tahu. Dan, mereka telah menutup telinga mereka hanya karena mata mereka sudah melihat.
“Apakah Tuhan hanya menciptakan mata untukmu?” Ingin sekali kulontarkan kalimat itu ke muka mereka. Baukah kau rasa ucapanku ini karena aku membawa-bawa nama Tuhan? Hey, aku tidak membawa nama Tuhan padamu. Kau tidak tahu kan Tuhan mana yang kumaksud? Ada banyak Tuhan di dunia ini, mungkin aku juga adalah Tuhan!
Akh! Tapi, semua kataku yang keluar tadi mungkin hanya bisa menjadi sebuah tulisan, tulisan yang mungkin tidak akan kalian baca. Karena bukankah aku terang? Walau aku bilang aku gelap, itu adalah untuk menandaskan bahwa aku terang.
Kurasakan kembali keberadaan gadis itu dibalik pintu yang sedang kugembok. Hanya aku yang menyadari dia ada. Yang lain tidak. Biarlah mereka tidak tahu keberadaannya lagi. Mungkin ini yang terbaik. Biarlah dia menjadi duri dalam dagingku walau sebenarnya aku juga mencintainya. Perasaan apa ini? Aku juga tak tahu. Aku tak sanggup melakukannya. Dan aku tak sanggup mendeskripsikannya. Akhirnya yang ada hanyalah sirat bukan surat.
Tersirat? Aku tanya lagi pada mataku di cermin itu. Apakah mataku mencerminkan ini semua? Mungkin! Tapi, itu hanya saat aku melihat ke cermin. Aku gelap! Sekali lagi mencoba menegaskan. Kau tak akan pernah tahu aku akan apa lagi…
Aku yang sekali lagi mulai mencintai duri yang adalah kehampaan itu. Mencintai? Apakah aku benar mencintanya atau? Ini adalah kali berikutnya aku harus mengatakan bahwa aku gelap! Ini kali berikutnya juga kau tak akan percaya, kau akan selama-lamanya menganggap aku terang. Kemudian ini kali berikutnya lagi terang semakin ditegaskan pada diriku yang gelap tetapi juga terang.
—————
Yang Nyangkut dari Mesin Pencari:
pelampayan, cerpen remaja, cerpen tentang dia, cerpen remaja aku beranjak dewasa, TANTEKU GURUKU, cerpen aku dan dia, ibu dan anak seks, cerpen remaja kematian, BAUKAH WORKSHOP, Datu pelampayanPostingan Terkait:
- Mati!
Keramaian ini benar-benar membuat dadaku sesak! Aku hanya bisa mengamati... - Kehidupan Luar
Apa Helda yang seperti ‘katak dalam tempurung’ atau Helda ituh...
Tags: 15 tahun, aku, Cinta Remaja, dia, gadis, gelap, kehampaan, mati, terang
Categories:
Cerpen


masicang
kegelapan hanyalah situasi dimana tiada cahaya.
terang itu bukanlah lawan gelap. hanya saja terang tanpa gelap tidak akan pernah bisa dibedakan
Loneliness Whitebear
klo gelap.. nyalain dong lampunya…
hehehehe,…
*kabur….
anggie hsb
waaaaaaaaaa…t.o.p kali bah….
kereeeeen….lanjotkan…
arifudin
cinta memang misteri
ArieL, FX
habis gelap, terbitlah terang
syaimi
habis sepah manis d buang dasar laki2 tak bertngghung jawab pd wanita
Nyante Aza Lae
ahhh, 15 taun, msh under age sis..
rudytarigan
Ah kau membahas sesuatu yg absurd dek,….
perempuan
aq paling hobi ma cerpen… keepp your good work
rafael
bagus banget ya ceritanya..serius, sampe sekarang aku belum bisa buat cerita yang seperti ini…sulit rasanya membuat cerita dengan jenis seperti ini…
good
azaxs
Sip.. ikutan menikmati
wi3nd
belum baca utuh..
nin99alin jejak dulu yaaa..
nanti balik la9i..
makasi da SIN99Ah..
Lyla
kemarin di TV ada gadis 15 th mau coba bunuh diri…hiks…kesian sekarang byk orang yang putus asa…
septa
semua orang keqnya punya sisi gelap deh
gak ada manusia yg sempurna
melati
.hy…
esha di birulangit
Setiap manusia pasti punya sisi gelap dan terang…..
Qori
wah,bahasanya sastrawi banget,jadi gak ngerti deh XP
yudi
waduh bolak balik baca nih, kayaknya perlu penerjemah saya hehe..
Andre
waduh..saya kira cerita nyata, ternyata cerpen yah..
lukman hermawan
gile keren abis nok. emang bener sih, emang Tuhan cuma ciptain manusia mata?
salam kenal
ipung
Wah.. malaikatnya kok nyebelin yach.. mungkin mereka the fallen angels yach.. sampe mau ditonjok gitu hihihi
wiryo
wah keren met sukses y. salam kenal
fandi88
palingan juga lom bayar listrik,, haha.. lam kenal iiah mb’ ditunggu kedatangan’na..
ofa ragil boy
wah hebat juga cerpennya, gw mo bikin cerpen, cuman lom sempet posting aja nieh, hehehhe……
oya ikuti humoria ala orb. gokil broo….
Erix
Mbak, cucah bgt buwat Cerpen apalagi novel.
Ajarin dunks!
gerad
misteri ? http://jawasoft.blogspot.com info misteri.
SaChan
Q suKa ma ceRitax… taPi, Q agak susah mahamin ceritanya tuuh,,,
caca
aku punya cerpen banyak sist..
bisa d muet juga ga..??
Diyantomo
Bagus, ada kebingungan di dalamnya namun juga ada terang. Namun semuanya tetap aja akan mati dan mati. Hehe…
FARROS
biarkan saja dong…mengeluarkan idea nya..
Diyantomo
eee nambah dong, jelasin aja pada kita-kita sebenarnya gimana jalan cerita yang ada pada imajinasi kamu, so biar kami manggut-manggut paham apa yang sebenarnya kamu maksud. OK!
smp
cerpen berupa comen
TOMPELKU KEBERUNTUNGANKU
Namaku Leha Luthfiattun tetapi aku biasa dipanggil Leha. Aku sekolah di SMPN 1 Banjarbaru (salah satu sekolah favorite di Kota Banjarbaru). Aku ini berasal dari keluarga kurang mampu, hidupku serba kekurangan. Aku hanya tinggal dengan ibuku, karena ayahku meninggal saat aku masih didalam rahim ibuku, jadi aku belum pernah melihat wajah ayahku. Aku hanya pernah melihat wajah ayahku dari sebuah foto tua peninggalan ayahku. Jadi beginilah kehidupanku.
Ketika aku menangis mencoba bertanya kepada Tuhan “YA TUHAN, MENGAPA KAU CIPTAKAN AKU SEPERTI INI”. Dengan nada merintih aku mencoba menahan tangis, kemudian aku tertidur lelap di lantai.
Keesokan harinya aku pergi kesekolah. Ketika sampai di sekolah, seperti biasa aku dipanggil “LEHA SI TOMPEL AJAIB”. Aku memang memiliki tompel di leher kiriku.
Aku menahan tangis dan derita tiada akhir.Aku hanya punya satu sahabat yang selalu setia dan mencoba menghiburku disaat suka maupun duka, yaitu MARCONAH.
Marconah adalah seorang anak dari keluarga kaya. Rumahnya terletak didekat Pasar Ikan Banjarbaru.
Marconah mempunyai nasib yang sama seperti aku. Dia selalu diejek oleh teman-teman karena berteman denganku. Aku mencoba menghindar darinya agar dia terhindar dari penderitaan. Tetapi dia tidak mau menurutiku. Bahkan dia berkata.
“Leha!!!! Walaupun aku ini selalu diejek teman-teman tetapi aku akan selalu bersamamu”.
“Mengapa kamu mau berteman denganku ?”, tanyaku.
“Aku berteman denganmu karena kamu sangat mirip dengan kakakku”.
“Sebenarnya apa kendala dengan kakakmu?”.
“Dia hilang sewaktu masih bayi ketika Ayah dan Ibuku berziarah ke PELAMPAYAN(Salah satu tempat wisata di Kalimantan Selatan)”, jawab Marconah dengan raut wajah ingin menangis.
“Mengapa bisa terjadi?”, tanyaku dengan nada ingin tahu.
“Kejadian itu berlangsung ketika aku masih dalam kandungan Ibuku.
Ayahku bernama SYAHRUNI dan ibuku bernama RISCONAH.
Entah mengapa secara tiba-tiba ibuku mengajak ayahku berziarah ke Pelampayan. Ayahkupun menuruti kemauan ibuku. Akhirnya ayah dan ibuku pergi ke Pelampayan pada Kamis sore.
Karena jalanan macet dan becek ditambah dengan para pengemis yang merengek-rengek di pinggir jalan. Mereka agak kesusahan menempuh perjalanan. Setelah sekian lama menempuh perjalanan dari rumah akhirnya mereka sampai juga di Pelampayan pada pukul 20.00 WITA.
Lalu tiba-tiba Ibuku berkata.
”Bah,, inikan malam Jum’at kalo? . Jum’at kliwon pulang. Kada takutkah pian?”.
“Santai aja ma’ ai. Itu cuma tahayul. Kada usah percaya!!”..
“Tapi tatap ai ulun takut Bah!!”.
“Uma ai mama’ nih. Kekijilan banar!!. Nang kaya anak ABG haja!!!”.
“Lakasi nah kita istirahat dahulu. Uyuh aku!!”.
“Hiih,, kita kehotel dahulu”.
“Gasan apa kehotel? Nang kaya bahera’ duit haja”..
“Uma ai abah ni.. Pamalar banar!!!!”
“Biar ha’. Abah ni becari duit uyuh ma’ ai, maulah mama’ mehambur akan duit abah tarus”.
Setelah itu mereka meneruskan perjalanan. Tetapi tiba-tiba ayahku mengerem mobilnya secara mendadak. Ternyata didepan sana ada sebuah penginapan kecil yang sunyi dan sepi.
“Ma’!! itu ada penginapan nah. Kita menginap disitu haja lah?”, tanya Ayahku.
“Indah. Koler ulun!! Tempatnya buruk banar, rigat pulang!!”, kata Ibuku dengan raut wajah yang meremehkan.
“Uma ai mama’ ni. Kita ni harus hemat ma’ ai!!”.
“Inggih ha’. Terserah pian haja”, jawab Ibuku nada suara menyerah.
Akhirnya merekapun menginap di penginapan tersebut. Mereka langsung tertidur karena kelelahan.
Keesokan harinya mereka bangun kesiangan karena kelelahan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Pertama-tama ibuku yang bangun. Lalu ibuku membangunkan ayahku. Setelah ayahku bangun, ibuku mandi lalu setelah selesai ayahku lagi yang mandi. Setelah selesai mandi merekapun pergi untuk berziarah. Naas bagi mereka, ditengah jalan mereka dihadang oleh sekelompok preman pasar. Kebetulan Ibuku tidak membawa uang begitu pula dengan Ayahku.
Lalu preman tersebut berkata.
“Heh,, serahkan uang kalian!!!”
“Maaf bang saya tidak membawa uang”, jawab ayahku.
“Jangan bercanda kalian!!!”, gertak salah seorang preman.
“Benar bang, saya tidak membawa uang”.
“Apaaaa!! Ya sudah kalo begitu serahkan anak kalian!!”.
“Jangan!! Jangan!!”. Rengek Ibuku dengan nada merintih.
“Iya Bang!! Jangan ambil anak kami. Itu anak kami yang pertama”, tambah Ayahku.
“TIDAK BISAA!! Karena kalian tidak mau menyerahkan uang, jadi anak kalian harus saya ambil”.
“Jangan Bangg!!”, rengek ibuku sekali lagi.
Tetapi semua itu sia-sia. Preman itu segera merebut kakakku dari tangan ibuku.
“Abah ni kaya apa jar, anak diambil urang,, maka bediam haja!!”. Kata Ibuku sambil menangis tersedu-sedu.
“Ulun takut juwa Ma’ ai!!”, jawab Ayahku dengan tubuh yang gemetar.
“Tapi kaya apa Bah?? Itu anak kita yang pertama!!”.
“Biar haja. Tuhan selalu menolong Hamba-Nya yang lemah”.
“Kita lapor kepolisi lah. Kalo pina polisi kawa menolong kita”, kata Ibuku sambil menahan isak tangis.
Setelah mereka melapor kepolisi, Mereka kembali lagi ke penginapan dan kembali beristirahat. Keesokan harinya seorang polisi datang kepenginapan ayahku dan ibuku dan melaporkan tentang hasil pencarian terhadap kakakku.
Polisi tersebut berkata
“Maaf Pak,, kami sudah berusaha mencari anak anda,, tetapi anak anda tidak ditemukan. Sekali lagi saya minta maaf Pak!!”.
“Aphaaaa?? Saya tidak percaya!!”,.
“Pokoknya kalian harus menemukan anakku!!”, Ayahku menambahkan.
“Tetapi mau bagaimana lagi Pak?? Kami semua sudah berusaha keras tetapi pencarian kami tidak menemukan hasil”, jelas salah seorang Polisi.
“Ya sudahlah,, apa mau dikata lagi. Sudak takdirnya mungkin”, kata Ayahku dengan wajah yang sedih dan mau mengeluarkan air mata.
“Ya sudah. Kalau begitu kami pamit pulang”.
“Ya. Terima kasih Pak!!”.
Akhirnya Marconah selesai menceritakan kejadian hilangnya kakaknya.
“Begitu kisah tentang kejadian hilangnya Kakakku”, jelas Marconah sambil menangis tersedu-sedu.
“Oh,, Jangan menangis Marconah!! Aku turut berduka cita dengan peristiwa ini”, jawabku sembil ikut meneteskan air mata.
“Leha!! Kamu memang sahabat terbaikku disaat suka maupun duka. Kau bagaikan Matahari yang menyinari bumi”.
“Ahh Marconah,, kamu bisa aja”, sahutku dengan tersipu malu dengan wajah merona.
“Ya sudah kalau begitu kita kembali ke kelas saja”, ajakku.
“Oce dechh sobat!!”.
Detik demi detik telah kulewati. Tak terasa matahari telah berada tepat diatas rambutku yang kusam dan kumal, sehingga membuatku gerah seperti cacing kepanasan. Sekarang saatnya tiba jam pelajaran yang paling kubenci. Seperti biasa aku mendengar ceramah ibu guru dengan tubuh yang lemas dan tidak berdaya, seakan telingaku terbakar oleh Api Neraka yang sangat panas.
Ketika aku sedang bercanda tawa dengan Marconah, tiba-tiba terdengar suara ‘Tettt,, Tettt’ tanda berakhirnya pelajaran hari ini. Akupun menyambutnya dengan kata “Yesss,, Hore”. Dan teman-temanku bersorak “Huuuu,, dasar gadis gembel bertompel maunya pulang melulu”, Lalu akupun menjawab “yeee, terserah aku dong”.
Ketika aku dan teman-teman sedang membereskan barang-barang ingin segera meninggalkan sekolah. Ibu guru pun berkata.
“Eittt,, ingat!! Minggu depan tugas harus sudah selesai”.
“Aphaa!? Yaah Ibu. Kan belum selesai Bu!!”, kata Ipul salah satu siswa di kelasku..
“Ipul!! Jangan main-main kamu!! Ibu kan sudah memberi kalian waktu selama kurang lebih empat minggu. Jadi kalau kalian tidak selesai, maka kalian akan ibu hukumm!!, gertak Ibu guru.
“Iya nyonya!!”, jawab si Jamal siswa yang paling nakal di kelasku.
“Heh Jamal!!! Kurang ajar kamu ya!!”, bentak Ibu guru.
Seketika Jamal langsung tertunduk dengan raut wajah takut dan mata yang berkaca-kaca seperti hendak menangis. Lalu kami pun pergi meningggalkan kelas menuju ke pintu gerbang dengan berbondong-bondong seperti orang hendak berperang. Tiba-tiba ada yang memanggilku “Leha!! Leha!!”, ternyata Marconah yang memanggilku. Ketika aku ingin menghampiri Marconah, secara tidak sengaja aku tertabrak Kakak Ronaldinho. kakak Ronaldinho adalah kakak dari teman kami yaitu Joko. Kami sangat mengidolakan kakak Ronaldinho, karena dia adalah sosok orang yang berwibawa dan baik hati serta tidak sombong. Akupun tertunduk dengan wajah malu-malu kucing. Lalu Marconah berkata padaku,
“Leha!! Gimana kalau hari ini kita mengerjakan tugas yang diberikan dirumahku??”.
“Wahh,, maaf hari ini aku tidak bisa karena harus membantu orang tuaku berjualan jagung bakar di Lap.Murjani”.
“Aduhh,, terus gimana tugas kita?”, tanya Marconah sambil mengusap keningnya.
“Bagaimana kalau nanti saja, sehabis aku membantu ibuku berjualan. Kira-kira setelah Maghrib!!”, jelasku.
“Ochee deh!! Terserah kamu saja”.
“Ya sudah, sampai bertemu nanti ya!! Muachhh(Kiss Bye)!!”.
Lalu aku pun berjalan pulang menuju rumah untuk mempersiapkan keperluan berjualan. Setelah berjalan cukup lama akhirnya aku sampai juga dirumah. Lalu aku pun membantu ibuku untuk mempersiapkan keperluan jualan.
Setelah kami selesai mempersiapkan segalanya, aku dan ibuku pergi ke Lap.Murjani dengan menggunakan Sepeda Onthelku. Seperti biasa dilihat orang-orang dengan mata yang tajam dan sinis dan aku diejek “ Ihiiiiyy, Si Tompel Jualan Jagung”. Aku pun berkata di dalam hati “YA ALLAH andaikan dunia ini tak ada seorang yang jahat padaku!!! Hidupku tidak akan sengsara seperti ini!!”.
Setelah sekian lama berjualan jagung, tidak ada satu orangpun yang membeli jagungku. Kemudian aku berkata kepada Ibuku .
“Bu,, sudah lama sekali kita berjualan jagung disini,, tetapi belum ada satu orangpun yang membeli!!”
“Sabar Nak!! Orang sabar disayang Tuhan!!”, jawab Ibuku.
Lalu ada sebuah mobil yang berjalan dengan lambat. Mobil itu berwarna Merah yang sangat mengkilat seperti baru dibeli. Mobil itu berhenti didekatku dan ibuku.
Lalu ada seorang gadis yang turun dari mobl itu lalu berlari mendekat.
Ternyata gadis itu adalah Marconah.
“Lehaaa!! Ternyata kamu berjualan disini.. Tapi kenapa dagangannya kok masih banyak?”.
“Iya nih,, mulai tadi daganganku belum terjual satupun!!”.
“Kalau begitu aku saja yang membeli jagung kamu semuanya!!”.
“Ahh Marconah.. Jangan begitu”, sahutku.
Lalu Marconah berlari menuju mobilnya dan berbicara kepada ibunya .
“Mah,, Marconah pengen beli Jagung !!”.
“Kamu mau beli dimana Nak??”.
“Disana Mah!! Boleh ya??”, kata Marconah sambil memohon.
“Ya sudah,, ini uangnya”, sahut Bu Risconah dengan wajah yang ragu-ragu.
“Makasich yah mah, tapi uang nya kurang mah!”.
“Memangnya gadis itu temanmu ya?? Sepertinya gadis itu kurang mampu dan agak gembel”.
“Mamah!! Jangan pernah mengejek Leha!! Leha itu sahabatku!!”, bentak Marconah
“Marconah!! Kamu berani begitu dengan Mamah!!”.
“Ini semua salah Mamah!! Mamah telah mengejek sahabatku”.
“Maafkan Mamah nak, Mamah tidak bermaksud menghina sahabatmu, Nih uang untuk beli jagung”, jawab Bu Risconah dengan mata berkaca-kaca sambil memberikan beberapa lembar uang yang berwarna Biru.
“Tidak apa-apa mah, aku nggak marah kok!”
“Ya sudah,, kalau kamu mau beli jagung,, silahkan saja”.
Lalu Marconah berlari dengan wajah berseri-seri, Ia berlari menghampiri Leha.
“Leha!! Aku beli semua jagung ini, nih uangnya”, kata Marconah sambil memberikan uang dengan lembaran tebal berwarna ‘Biru’.
“Ya ampunnn,, Kamu nggak perlu repot-repot membeli semua jagungku”.
“Nggak apa-apa kok,, Aku cuma pengen ngebantu aja”.
“Ya sudahlah,, kalau itu maumu,, aku jadi merasa bersalah”, jawabku sambil menyodorkan jagung kepada Marconah.
“Ehh, ngomong-ngomong gimana tugas kita kita??”, tanya Marconah.
“Nanti saja,, sehabis Maghrib,, sekitar jam 7,, Ok?”.
“Tetapi aku tidak bisa kalau malam,, papahku bakal marah,, gimana kalau sekarang aja?”.
“Hmmm,, gimana ya? u belum minta izin dengan Ibuku”.
“Ya sudah kamu minta izin dulu dengan Ibumu,, barangkali Ibumu memberi izin”.
Lalu akupun meminta izin kepada Ibuku . Ternyata Ibuku mengizinkan.
“Ya sudah nak!! Terserah kamu saja. Tapi pulangnya jangan terlalu malam”, kata Ibuku saat memberi izin.
Tak terasa Azan Maghrib telah berkumandang. Tiba saatnya bagiku untuk melaksanakan shalat Maghrib.Setelah aku selesai menunaikan Ibadah, aku segera pergi kerumah Marconah yang terletak cukup jauh dari rumahku. Aku hanya pergi dengan jalan kaki dengan menggunakan sandal nippon yang sudah kumuh. Sandal ini kudapatkan saat ada kegiatan jalan santai di kampungku.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Aku un tiba dirumah Marconah.sahabatku yang tercinta, Marconah menyambutku dengan baik, akan tetapi pada saat ada di rumahnya aku bertemu dengan tantenya. Tantenya bernama Tante Lisa, Tantenya melihatku dengan mata sinis seperti ingin muntah di depanku,
“Marconah!!!!, siapa gembel di sampingmu ?” Tanya Tante Lisa dengan nada merendahkan.
“Apa maksud tante temanku di bilang GEMBEL . . .Dia itu sahabatku tante!” jawab Marconah dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi ini sahabatmu dengan pakaian compang-camping seperti pengemis bawah jembatan, siapa nama kamu ?” Tanya Tante Lisa kepadaku.
“Na . . .nama saya Leha, saya te . .teman sekelas Marconah” jawabku dengan nada sedikit gagap dan sumbang.
Kemudian Tante Lisa menjauh dengan muka seolah-olah aku tidak ada pada saat itu. Kami pun pergi ke kamar Marconah untuk mengerjakan tugas. Kamar Marconah sangat luas dan bersih serta tertata rapi, sangat jauh berbeda dengan keadaan kamarku yang sangat berantakan dan kumuh.
Saat kami sedang mengerjakan tugas, tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu sambil mengetuk pintu.
“Marconah,, ini mamah, sayang.”
Ternyata itu adalah suara ibunya Marconah, suaranya terdengar sangat merdu seperti suara Krisdayanti.
“Iya mah, bentar dulu.”, jawab Marconah sambil berjalan menuju pintu.
Marconah pun membuka pintu kamarnya, ibunya pun segera masuk.
“Nak, ini temanmu yang berjualan jagung tadi, ya?”
“Iya mah, ini Leha.”
“Iya tante, saya Leha yang berjualan jagung tadi.”, sahutku.
“Ya sudah, semoga kamu merasa nyaman di rumah kami yang sederhana.”.
Aku pun langsung berkata dalam hati, “Gilaaa.. rumah gede kayak gini dibilang sederhana. Memang orang kaya selalu begitu”. Ternyata ibunya Marconah sangat baik tidak seperti tantenya. Aku pun kagum terhadap ibunya Marconah.
Ketika sedang sibuk mengerjakan tugas, tiba-tiba aku ingin buang air besar karena dari tadi perutku terasa mulas, mungkin karena aku belum makan.
“Marconah, toilet dimana, ya? Aku sakit perut nih.”
“Oh, toilet ada disana, mari ku antar. Ayo ikuti aku.”
Marconah pun mengantar aku menuju toilet. Aku sudah tidak tahan menahan mulas ini, rasanya seperti ingin tepecirit saja. Sebentar-sebentar, aku meraba-raba pantatku untuk memastikan tidak terjadi apa-apa.
Setelah sampai di depan toilet, aku segera masuk ke dalam toilet. Terlihat di depan kompor gas ada Ibu Risconah sedang membuat minuman. Seketika aku terpana wc jongkok, aku tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Beberapa menit aku melihat dan memahami wc jongkok itu.
Setelah beberapa lama, akhirnya aku bisa menggunakan wc jongkok dan buang air besar dengan nikmat. Perutku tidak terasa mulas lagi. “Alhamdulillah”, kataku dalam hati. Aku pun segera menyiram wc jongkok dan keluar dari toilet.
Tetapi, ketika aku berjalan keluar toilet, aku terpeleset dan terjatuh di dalam toilet. “BRAAKKK!!”, suara ini terdengar sampai ke kamar Marconah. “Aduhhh”, kataku dengan nada merintih kesakitan. Lantai toilet yang basah dan licin , seketika menjadi kering karena meresap ke bajuku yang kumuh. Bu Risconah pun terkejut dan segera berlari ke toilet. “Astaghfirullah”, itulah kata yang terucap dari bibir Bu Risconah.
“Kenapa kamu, Leha?”, kata Bu Risconah.
“Aku terpeleset, Bu”.
“Ayo sini, Ibu Bantu kamu untuk berdiri”, kata Bu Risconah sambil menjulurkan tangannya kepadaku.
Akhirnya dengan bantuan Bu Risconah, aku dapat berdiri kembali. Aku merasa jilbabku basah karena terjatuh tadi. Aku pun berkata kepada Bu Risconah.
“Aduuuh, jilbabku basah nih”.
“Lepas saja jilbabmu”
“Ya sudah, aku lepas saja jilbabku”.
Seketika Bu Risconah terdiam tanpa kata saat melihat tompel di leherku. Bu Risconah pun langsung menangis tersedu-sedu dan langsug memelukku.
“Iriconah, kamu adalah anakku”.
“Hah!? Apa maksud tante?”.
“Leha, kamu adalah anakku yang hilang. Kamu adalah anak pertamaku, kakak dari Marconah”, kata Bu Risconah sambil menangis histeris.
“Yang benar saja tante?”, ucapku dengan wajah bingung.
Marconah pun yang mendengar suara tangis itu segera lari ke dapur. Lalu berkata.
“Mamah, kenapa mah?”
“Ini Nak, ternyata Leha adalah kakakmu yang hilang belasan tahun lalu”.
“Hah!? Apakah ini benar Leha!?”, tanya Marconah kepadaku sambil menggenggam bahuku.
“Aku tidak tahu juga sih”.
“Mengapa mamah beranggapan bahwa Leha ini saudaraku?”.
“Leha ini memiliki tompel, sama seperti Iriconah”.
“Mungkin ini Cuma kebetulan”, sahutku.
“Tidak mungkin! Dapatkah kamu mengajak ibumu kesini?”, Tanya Bu Risconah padaku.
“Bisa tante”.
Akhirnya aku mengajak ibuku ke rumah Marconah. Dan menceritakan semuanya. Ternyata ibuku menemukan aku di dalam kardus air mineral prof. Aku pun terharu mendengar kisah ibu.
Dan akhirnya, aku menemukan orang tua kandungku dan tinggal bersamanya. Sementara ibu angkatku diajak tinggal bersama oleh keluargaku. Kami pun hidup bahagia sebagai keluarga yang utuh.
dongengdenis
bayangkan engkau terkurung dalam sebuah ruang yang penuh kegelapan. entah apa yang ada diluar sana.
padahal ternyata diluar sana penuh dengan cercah sinar mentari.
lalu engkau mulai kebosanan dalam ruang itu, mencoba mencari cara untuk keluar.
engkau memukul dinding ruang kecil yang mengurungmu itu, tanpa kenal lelah, tanpa terbersit perasaan menyerah sekalipun, tanpa takut tanganmu retak dan berdarah, tidak berhenti sekalipun. karena engkau tahu diluar sana ada dunia lain. mungkin.
kemudian, muncul sebuah retakan kecil dari dinding itu.
apa yang akan terjadi?
sinar itu memenuhi segala ruang kegelapanmu, hanya butuh sebuah retakan kecil. bahkan tak perlu menunggu satu detikpun.
FARROS
memang misteri banget
Rani Fitriani
klo gelap.. nyalain dong lampunya…
hehehehe,…
Rani
Kasian yah!Padahal masih muda..!
I Support!
Cuap Paling Baru!
Komentar Baru
Rubrik
Archives
Supporter
Informasi Beasiswa
Hosting Murah Blogger Indonesia
Switch to our mobile site