Apakah Aku (Remaja) Tukang Ngadu?
“Aku telah bersahabat dengannya selama bertahun-tahun. Dia banyak membantuku selama ini. Akan tetapi, suatu hari aku tahu dia melakukan sesuatu yang salah. OMG! Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus memberi tahu hal ini pada orang yang berhak tahu? Jika aku melaporkannya, itu berarti aku bisa dianggapnya sebagai tukang ngadu. Namun, jika aku tidak melaporkannya, bukankah hal yang dia lakukan bisa berarti petaka di masa depan? Kemudian, bisa menjadi penyesalan seumur hidup bagiku. Aku tidak mau putus hubungan dengan sahabatku sendiri!”
Kita pasti pernah dan mungkin sering berada dalam situasi dalam monolog di atas. Pada suatu waktu, kita mengetahui hal-hal tersembunyi yang dilakukan oleh teman atau sahabat kita. Ibarat memakan buah simalakama jadinya. Kalau Anda sendiri, apakah yang Anda lakukan di situasi tersebut?
Misalnya, temanmu mencontek/mengopek pada waktu ujian, punya koleksi gambar-gambar atau video cabul, berpacaran diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua, membohongi orang tua mereka, ikut-ikutan dengan remaja lainnya dalam pesta liar, dan sebagainya.
Sering kali yang kita lakukan adalah cuek saja, mencoba berpura-pura tidak tahu sebagai jalan amannya.
Padahal, sahabat sejati harusnya bersama-sama pada waktu suka dan duka. Nah, jika seseorang melakukan perbuatan salah (baca: dosa), bukankah dia berada dalam duka? Ini adalah kesempatan buat kita sebagai sahabatnya untuk menolong dia, bukan?
Saya pernah membaca satu ilustrasi mengenai “melaporkan” ini di sebuah artikel. Diibaratkan bahwa sahabat kita itu menderita diabetes, eh, tahu-tahu, dia melahap apa saja yang menjadi pantangan dia tanpa sepengetahuan yang lainnya. Kebetulan, hanya kita sendiri yang tahu. Nah, apa yang akan kita lakukan? Bukankah demi kesehatan dia, kita akan memberi tahu pada yang berhak tahu?
Bukan berarti kita juga asal-asal melapor. Alangkah lebih baik jika kita menasehati terlebih dahulu sahabat kita tersebut. Jika dia benar-benar tidak melakukannya lagi, bagus! Walau begitupun, tetaplah minta dengan penuh respek padanya agar orang tuanya tahu.
Bagaimanapun, jika dia memang sahabat sejati kita, dia akan sadar. Memang, tidak dipungkiri bahwa dia akan merasa kecewa dan malu. Namun, waktu akan menjawab semuanya!
Postingan Terkait:
- Haruskah Aku Memiliki Sahabat?
Tak hanya memiliki teman hidup yang menjadi dambaan setiap orang, tetapi juga memiliki sahabat. Yup! Siapa sih yang tidak ingin... - Kapan Aku Bisa Pacaran?
Nah, buat yang sudah memasuki masa remaja, pasti pertanyaan di atas terbersit di kepala. Atau mungkin pertanyaannya ngga’ kayak gitu... - Mengapa Remaja Enggan Cerita Pada Orang Tua?
Kalau kita punya kesalahan dan orang tua kita tidak tahu-menahu, apa yang bakal kamu dan saya lakukan? Sulit pasti untuk... - Kejujuran dalam Berpacaran
Bagaimana reaksi Anda ketika baru saja putus, mantan pacar Anda langsung punya ‘gandengan’ baru? Hmm.. Kesel juga pastinya. (Ya ea’... - Senang Melihat Orang Susah, Susah Melihat Orang Senang
Senang Melihat Orang Susah, Susah Melihat Orang Senang. Kalimat di atas pasti tidaklah asing lagi bagi kita semua, dan bahkan... - Seks Bentuk Lain!
Ngomongin soal seks memang tak akan ada habisnya! Gimana nggak, Bo’! Ragamnya banyak. Hehe. Akan tetapi, pada saat ini saya... - Tidur Bagi Remaja - Dewasa Muda
Apakah Anda cukup tidur atau apakah tidur Anda berkualitas? Mungkin ada yang menjawab ya dan tidak. Ya cuman itu pilihannya...
Tags: apa saja, asal, atas, baca, bagus, diabetes, diam diam, dosa, duka, hanya, hidup, ilustrasi, kalau, kesehatan, masa depan, monolog, orang tua, pasti, penyesalan, pesta liar, remaja, respek, sahabat, sahabat sejati, salah, sering, suka, teman, tukang ngadu




Hal yang paling sulit memang menangani kenakalan moral dan akhlaq yg dilakukan oleh remaja2 yg terlalu over memaknai kebebasan ala mereka. Terlebih jika itu memang sahabat dekat dan sekaligus tean dekat kita.
Dan masukan dari helda aku pikir sudah tepat dan bijak
tapi sebelum itu terjadi marilah kita memproteksi diri dari yg demikian dari sekarang
Salam Helda
hehe…
i just want to say..
“be careful” !
klo untuk kebaikan teman kita sendiri, dibilang tukang ngadu kan gpp.
mungkin disaat awal dia akan beranggapan kita tukang ngadu, tapi disaat dia menyadari bahwa apa yg kita lakukan itu benar, maka dia akan mengatakan “terimakasih”…
comment dulu baru baca
hemm.. aku agak sulit kalau soal yang seperti ini. soalnya ga pernah ngadu ke siapa2 sih. selama ini suka menyimpan masalah sendiri
mungkin, sebaiknya kita pertama dulu yang cerita kepada teman kita itu ya, kalo memang dia tidak mau mendengarkan apa yang kita katakan, baru deh kita cari bantuan orang lain yang mungkin lebih dihargainya…
[...] kali ini masih ada hubungannya dengan postingan sebelumnya di blog ini. Tukang ngadu ya, Bo’! Banyak yang bilang sebaiknya ngomong dulu sama si kawan [...]
sahabat sejati tidak mengatakan yang ‘indah-indah’ untuk menutuoi kesalahan sahabatnya…
tapi mengatakan yang sejujurnya demi kebaikan sahabatnya…
karna sahabat melakukan segala hal demi tujuan kebaikan..
Maen Game RO onlen sama C&C general zero hour nich
ngadu jangkerik, ngadu ayam, ngadu domba……awasssssss polisiii