Lumrahkah Seks Pranikah?
Banyak beberapa orang telah menganggap berhubungan seks sebelum menikah atau yang sering disebut sebagai seks pranikah adalah lumrah. Keperawanan maupun keperjakaan tidaklah menjadi tolak ukur. Asal didasarkan suka sama suka, semua sah-sah saja. Toh, yang penting tidak merugikan orang lain!
Sementara itu, beberapa yang lainnya masih menganggap bahwa keperawanan dan keperjakaan itu benar-benar penting. Jadi, yang mana yang benar? Apakah ini hanyalah soal pilihan hidup seperti yang disebut-sebut orang?
Menurut saya ini bukanlah pilihan hidup, tidak ada yg mesti dibandingkan karena jawabannya hanya satu. Apakah itu? Silahkan jawab sendiri.
Usia pubertas yang semakin dini memicu para remaja ini memulai aktivitas “mencintai-dicintai” lebih dini. Seperti postingan sebelumnya yang menyatakan bahwa usia seseorang untuk berpacaran semakin muda. Padahal di usia tersebut yang disebut “mekarnya masa remaja” merupakan keadaan yang rentan akan segala godaan. Coba Anda sendiri tanyakan pada diri Anda: “Seberapa cepat Anda mengambil keputusan sewaktu muda? Rasa-rasanya semuanya menggebu-gebu bukan?” [Apakah memang seperti itu, silahkan jawab di kolom komentar
]
Nah, karena perasaan menggebu-gebu itulah yang membuat beberapa remaja jatuh ke dalam jurang “seks pranikah”. Tak mampu lagi untuk menunggu. Belum lagi mereka dibombardir oleh media massa yang menggembar-gemborkan bahwa seks itu adalah suatu kesenangan. (Siapa bilang seks tidak menyenangkan? Namun adalah tidak hanya untuk sesaat jika hal tersebut dilakukan pada waktu dan tempat yang semestinya). Akibatnya ada yang terkena penyakit-penyakit kelamin atau bahkan AIDS – karena sering bergonta-ganti pasangan. Yang lainnya mengalami kehamilan di luar nikah.
Bukankah menggunakan alat-alat kontrasepsi contohnya kondom bisa mencegah akibat buruk yang disebutkan di atas? (Kayak iklan yang itu lho
). Tidak dijamin seratus persen bahwa ‘pengaman-pengaman’ itu bisa mencegahnya. Semuanya pasti memiliki persentase kegagalan. Oke, bisalah dikatakan bahwa kegagalan itu hanyalah segelintir kecil, namun mari kita simak dampak yang lebih berbahaya daripada dampak fisik!
Dampak Psikologis
Sesungguhnya jika seseorang telah berhubungan seks sebelum ada ikatan pernikahan, dia telah belajar untuk menjadi anak-anak bukannya dewasa. Mengapa? Karena pada saat dia terhanyut dalam lautan asmara – dia tak mampu mengendalikan api-api cinta yang membakarnya. Tak ada pengendalian diri!
Poin yang lain adalah mereka bukanlah orang yang sabaran. Tak ada pengendalian diri tadinya tentu saja menunjukkan bahwa dia bukanlah seseorang yang sabaran. Dan, sebenarnya mereka telah melangkahi garis batas yang tak mungkin mereka bisa kembali lagi.
Ketika ‘malam itu’ telah lewat, perasaan yang ada hanyalah merasa bahwa pasangannya seperti orang lain. Si perempuan merasa dirinya dipermainkan sementara si lelaki merasa si gadis adalah gadis yang ‘gampangan’. Bukannya malah semakin mendekatkan hubungan mereka – yang ada hanyalah perasaan curiga satu sama lain.
Pernyataan yang muncul kira-kira seperti ini: “Jika dia mau melakukan ‘hal itu’ padaku, bisa saja dia telah melakukan dengan orang lain?”
Cinta yang sesungguhnya tentu penuh rasa tanggung jawab menurut saya [apakah Anda juga berpikir seperti itu?]. Oleh sebab itu, apa solusinya bagi mereka yang telah berpacaran?
Kita tahu bahwa sepasang kekasih sering kali lebih akrab secara fisik. Waktu yang dihabiskan mungkin lebih banyak untuk bercumbu-cumbuan tanpa ada percakapan yang membina. Jadi, mulai dari sekarang (pas banget nih ntar malem adalah malam minggu), sediakanlah waktu untuk berkomunikasi. Bicarakan hal-hal posistif yang dapat membangun keakraban yang lebih hakiki. Ciee.. bahasanya..
ops:
Ingat seks bisa menunggu! Jadi, kenapa para remaja tidak mengambil tindakan yang lebih berguna ketimbang memikirkan dan menghabiskan waktu untuk ‘hal-hal tersebut’?
>>>Artikel ini saya buat dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia. Untuk apa kondom? Lebih baik bersabar saja hingga saatnya tiba!
Yang Nyangkut:
Persentase keperawanan, Cerita fantasi seks dengan hewan, dampak kasus remaja hamil diluar nikah, persentase keperawanan remaja, remaja pranikah, seks pra nikahPostingan Terkait:
- Kapan Aku Bisa Pacaran?
Nah, buat yang sudah memasuki masa remaja, pasti pertanyaan di... - Haid Pertama
Tulisan ini khusus cewe’-cewe’ ya, Bo’! Tapi, kalo’ cowo’ mau...
Tags: AIDS, alat kontrasepsi, ganti pasangan, Hari AIDS, Hari AIDS Sedunia, jurang, kehamilan, keperawanan, kolom, kondom, lainnya, lho, luar nikah, mampu, masa remaja, media massa, pacaran, penyakit kelamin, perasaan, perawan, persen, pubertas, remaja, Seks, seks pranikah, sering, siapa bilang, suka sama suka,




paparan seksualitas dimana-mana memang bak pisau bermata dua, bs sbg latihan pengendalian diri (ngga kaget kl liat yg lbh heboh..), tp bs jg menjerumuskan
tulisannya bagus2
Dijawab sendiri-sendiri di dalam hati aja deh… lumrah atau nggaknya.
[...] Ingat! Semua hal di atas pasti akan menimbulkan fantasi seks. Apakah pikiran kita ingin dipenuhi hal-hal sia-sia seperti itu? Bukan berarti seks adalah buruk. Namun, tidaklah berguna untuk mengisi pikiran kita dengan hal-hal cabul. Sebenarnya ketika kita melakukan aktivitas-aktivitas yang menyangkut ’seks bentuk lain’ itu, hal tersebut sama saja dengan mengonsumsi pornografi. Seorang manusia atau mungkin hewan hanya menjadi objek seks! Tujuannya adalah hanya untuk memuaskan kebutuhan seksnya saja, begitulah kata kasarnya. Padahal pada hakikatnya seks tidak begitu. [...]
Dalam hal ini harus lebih tegas,
TIDAK LUMRAH!!
[...] Lumrahkah Seks Pranikah [...]
nambah lg ah,
bs jg merugikan org lain, mis. bikin org lain kepengen, ngerepotin ortu kl hamil di luar nikah, ngerepotin dokter kl mesti aborsi, ngerepotin polisi kl ketauan aborsi ilegal, …
@Dani Iswara

Hanya saja, teteup kayaknya lebih banyak yg tidak tampak merugikannya.
Tapi, kalo’ utk poin “bikin orang lain kepengen”, hanya bisa menarik nafas saja, Dok.
Btw, susah jg nih, Dok, utk menyugesti remaja lainnya utk ndak ngelakuin seks di luar nikah. Ada satu kenalan saya yg tetep kekeuh dg pendirian dia, kalo’ seks pranikah itu ndak apa-apa.
TIDAK LUMRAH
tapi dengan adanya akal pikiran manusia, mereka menyalah gunakannya, sehingga melumrahkan hal yang tidak lumrah.
HANYA ORANG-ORANG YANG BERPIKIRAN PENDEK YANG MENGATAKAN LUMRAH.
“Jika dia mau melakukan ‘hal itu’ padaku, bisa saja dia telah melakukan dengan orang lain?”
hu`uh
[...] saja para remaja ataupun pasangan-pasangan yang lebih dewasa kadang bisa menambah jumlah persentase seks pranikah dan sebagainya. [...]
[...] batasan masing-masing tentang apa yang boleh dilakuin atau ngga (tentu jangan sampe ke praktik seks pranikah yah), nah yang berperan di sini sekarang adalah: standar moral, keimanan dan motif. Koreksi kalau [...]
[...] semoga bisa menjadi motivasi bagi gadis-gadis remaja yang hamil di luar nikah – entah oleh praktik seks pranikah atau mengalami pelecehan [...]
Makanya Nikah…!
nikmat sesaat nyeselnya seumur hidup…
Iih ngeri juga dunia remaja kalau menganggap lumrah. Pokoknya marilah kita gunakan segala potensi dan kegiatan kita para remaja, untuk hal berguna, pelajarilah berbagai ilmu bermanfaat tiada henti, jangan mempir kearah sex, masih banyak yang patut kita pelajari sebagai remaja. OK?
q setuju bgt lo seks pranikah tu “TIDAK LUMRAH” sama sekali…..
enx cuma sesaat j…
Nikmat se-malam, nyesal se-hidup.
Iya tar nyesel seumur hidup, awalnya sih enak tapi ujungnya pasti penyesalan n kepikiran terus…